Home Drone Solusi Salah Satu Masalah Drone: Sistem Baru agar Drone Terbang Lebih Lama!

Solusi Salah Satu Masalah Drone: Sistem Baru agar Drone Terbang Lebih Lama!

10 min read
0
0
6,966
drone-terbang-lebih-lama

Drone memang menjadi teknologi serba-guna belakangan ini, seperti SOLO smart drone dari 3DR, dan berbagai drone lainnya. Mayoritas untuk keperluan aerial fotografi/videografi, ada pula yang dikembangkan untuk keperluan ekspedisi, bahkan kesehatan. Ya, drone sangatlah versatile!

Namun, semua kecanggihan teknologi tersebut masih memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki—dan memang terus dikembangkan oleh para perancangnya. Salah satu kekurangan yang cukup dirasakan oleh para pengguna/pilot drone adalah waktu terbang atau daya tahan baterainya.

Rata-rata, drone hanya mampu terbang selama 10-30 menit, drone SOLO smart drone sendiri bisa tahan terbang selama 20 menit (tapi kamu bisa memperpanjang lama terbangnya dengan membeli tambahan baterai, cek di sini!). Durasi tersebut dirasa masih kurang untuk sebuah drone dalam melakukan pekerjaannya, misalnya saja saat merekam momen untuk sebuah berita. Akan menjadi tidak efisien ketika drone hanya bisa terbang selama kurang dari 30 menit, dan perlu berhenti untuk mengganti baterainya. Bisa saja kejadian bagus pun terlewati saat sedang tidak merekam.

drone dapat mengambil gambar dari udara, namun durasi penerbangannya masih terbatas

Hal yang sama pun terjadi pada robot yang didesain untuk bisa terbang. Robot ini pun tidak bertahan lama di udara karena memakan banyak energi.

Lalu, solusi apa yang tepat untuk masalah energi pada drone atau robot terbang ini? Percaya atau tidak, jawabannya berasal dari alam. Ya! Seorang mahasiswa PhD di Massachusetts Institue of Technology bernama Moritz Alexander Graule, PhD.  mendapatkan inspirasi saat melihat banyak hewan terbang hinggap atau bertengger di suatu tempat di tengah-tengah penerbangan mereka. Hal itu dilakukan mereka untuk menghemat energi atau tidak kelelahan saat terbang.

Bisakah drone dan robot hinggap sebentar di tempat tertentu untuk menghemat energi mereka selama penerbangan, sama seperti hewan-hewan terbang? Mengapa tidak? Graule pun membuat penelitian dan memimpin proyek tersebut.

Graule dengan co-author dari USA dan Hongkong melakukan proyek mereka di Harvard University (tepatnya di Harvard Microrobotics Lab) merancang sebuah robot super kecil bernama “RoboBee”. Robot dengan tinggi 2 cm dan berat 10 gram ini didesain untuk bisa hinggap dan terbang kembali dari bagian bawah tempat yang menjorok keluar, dari kayu, kaca, bahkan dari dedaunan.

Bagaimana Cara Robot Hinggap?

“Banyak hewan berbeda hinggap untuk menghemat energi,” ujar Kevin Ma, seorang postdoc di Harvard John A. Paulson School of Engineering and Applied Sciences (SEAS) dan Wyss Institute, sekalgus co-author proyek ini, “Tapi metode yang mereka gunakan untuk hinggap, seperti perekat lengket atau menempel dengan cakar, tidak dapat bekerja pada robot berukuran sebesar klip kertas ini. Mereka membutuhkan sistem rumit dengan komponen yang bergerak atau daya yang besar untuk terbang kembali.”

konsep hinggap layaknya burung atau hewan terbang lainnya membuat drone atau robot dapat menghemat energi baterainya

Jadi, bagaimana caranya robot kecil ini bisa hinggap untuk menghemat energi, dan dapat terbang kembali??

Para peneliti menggunakan tarikan listrik statis untuk membuat RoboBee hingga di suatu permukaan. Mereka merancang landing patch yang flat dan kecil dengan listrik statis yang dapat dinyalakan atau dimatikan.

Kamu tentunya sudah mengenal cara kerja listrik statis bukan? Sederhananya, jika kamu pernah melakukan percobaan kecil dengan menggosok balon ke wool, ia akan menempel di dinding rumahmu. Hal tersebut bisa terjadi lantaran balon memiliki muatan negatif setelah digosok-gosokkan pada wool. Saat didekatkan ke dinding,  muatan negatif pada balon tersebut mendorong sebagian elektron pada dinding tersebut menjauh, menjadikan permukaannya bermuatan negatif. Tarikan di antara dua muatan yang berbeda ini membuat balon menempel di dinding.

Sistem ini pula yang diterapkan pada RoboBee. Jika ingin membuat RoboBee hinggap pada permukaan di sekitarnya, landing patch pada robot ini dinyalakan sehingga bermuatan negatif dan dapat menempel pada permukaan apapun, seperti balon pada percobaan di atas.

Dan ketika ingin terbang kembali, matikan saja patch sehingga bermuatan positif. Robot pun terlepas dan terbang dari permukaannya tadi.

Mirko Kovac, Direktur Aerial Robotics Laboratory di Imperial College London mengatakan bahwa riset ini menunjukkan bagaimana para insinyur dapat belajar dari alam, serta menambahkan bahwa robot tersebut merupakan pengembangan signifikan di lapangan. “Itu menunjukkan bahwa hinggap di suatu tempat dapat dicapai dalam ukuran sistem yang paling kecil,” ujarnya, “Semakin kecil, energi yang dibutuhkan untuk terbang menjadi semakin menantang, jadi tambah sulit untuk terbang dalam durasi yang lama, jadi cara hinggap ini dapat sangat membantu.”

Hemat Energi, Juga Menambah Sudut Visual Baru

Sistem sederhana yang diterapkan pada RoboBee ini memberikan dampak yang cukup besar! Sesegera mungkin, para peneliti ingin mencoba menerapkannya pada drone.

setelah bisa diterapkan pada robot kecil ini, diharapkan dapat bisa diterapkan pada drone

“Salah satu keunggulan terbesar dari sistem ini adalah dia tidak menyebabkan dorongan yang tidak stabil selama pelepasan, yang sangat krusial untuk sebuah robot kecil dan tipis seperti milik kami,” ujar Graule.

Patch tersebut sangat hemat energi, memakan daya 1.000 kali lebih sedikit untuk hinggap daripada untuk terbang, menawarkan durasi operasional yang lebih lama untuk sang robot. Mengurangi kebutuhan daya robot sangat penting pada para peneliti karena mereka bekerja untuk mengintegrasikan baterai di robot pada RoboBee yang lepas.

Jika bisa diterapkan pada drone, tidak hanya menambah durasi penerbangan di udara saja, tetapi juga dapat menambah visual baru bagi pilot drone—terutama mereka yang menggunakan drone untuk keperluan aerial fotografi/film.

Menurut peneliti, kemampuan hinggap di permukaan mana saja layaknya burung ini menambah kesempatan bagi pengguna drone untuk mendapatkan angle “bird’s-eye view” untuk keperluan fotografi/film. Tentunya, akan sangat menakjubkan jika bisa memiliki hasil gambar dari sudut pandangan tersebut bukan?

sistem hinggap ini memberikan tambahan sudut pengambilan gambar yang baru, bird's-eye view

Yaa… meskipun pada saat ini, RoboBee baru dapat hinggap di bawah serambi dan di atas ventilasi karena patch listrik statisnya terpasang di atas mesin. Tapi ke depannya, tim peneliti berharap dapat mengubah desain mekaniknya agar robot dapat hinggap di berbagai permukaan.

Keren ya? Bayangkan jika drone-mu bisa hinggap di atas dahan-dahan pohon, menghemat energi sembari mengambil gambar dari sudut pandang baru. Artinya, semakin banyak kreativitas yang dapat kamu lakukan dengan drone milikmu, dengan durasi terbang yang lebih lama!

Coba klik di sini untuk melihat koleksi drone dan aksesorinya, atau klik di sini untuk membaca spesifikasi drone SOLO smart drone dari 3DR.

Jangan lupa kunjungi Halo Robotics untuk informasi menarik lainnya! Jangan lupa ikuti sosial media kami, Facebook, Twitter, Instagram, dan Google+.

Load More Related Articles
Load More By Ryan Taftiyan
Load More In Drone

Check Also

Emesent Partners With Indonesia’s Halo Robotics To Bring Autonomous Drone Technology To Southeast Asia’s Largest Market

Emesent’s Advanced Laser Imaging Technology Gives Drones Autonomous Flight Capabilities, E…